Sunday, April 14, 2013

Teori Psikologi Kepribadian


Macam-macam Teori Psikologi Kepribadian :

1.      Piaget (Tahapan Pengembangan Kognitif)
Teori Jean Piaget tentang  perkembangan kognitif tetap menjadi salah satu yang paling sering dikutip dalam psikologi, meskipun menjadi subjek yang cukup kritik. Sementara banyak aspek teori tidak teruji oleh waktu, namun ide intinya tetap penting yaitu: anak-anak berpikir berbeda daripada orang dewasa.
2.      Freud (Tahapan Pembangunan Psikoseksual) 
Selain menjadi salah satu pemikir terbaik di bidang pengembangan kepribadian, Sigmund Freud tetap menjadi salah satu yang paling kontroversial. Pada tahap teori tentang perkembangan psikoseksual, Freud menyarankan bahwa kepribadian berkembang secara bertahap yang berkaitan dengan zona erotis tertentu. Kegagalan untuk berhasil menyelesaikan tahap ini, akan menyebabkan masalah kepribadian di masa dewasa.
3.      Freud (Struktural Model Kepribadian)
Konsep Freud tentang id, ego dan superego telah menjadi terkenal, meski kurangnya dukungan dan skeptisisme besar dari banyak peneliti. Menurut Freud, tiga unsur dari kepribadian-yang dikenal sebagai id, ego, dan superego bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.

-          Id

Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir atau sistem dasar kepribadian. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian.Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan  atau ketegangan. Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi. Dorongan-dorongan dari Id dapat dipusatkan melalui proses primer yang dapat diperoleh dengan tiga cara:
-          Perbuatan. Seorang bayi yang sedang timbul dorongan primitifnya,misalnya menangis karena ingin menyusui ibunya. Bayi akan berhenti menangis ketika ia menemukan putting susu ibunya dan mulai menyusu.
-          Fungsi kognitif. Yaitu kemampuan individu untuk membayangkan atau mengingat hal-hal yang memuaskan yang pernah dialami dan diperoleh. Dalam kasus ini individu akan berhayal terhadap hal-hal yang nikmat atau menyenangkan.
-          Ekspresi dari Afek atau Emosi. Yaitu dengan memperhatikan emosi tertentu akan terjadi pengurangan terhadap dorongan-dorongan premitifnya. 
Namun, segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.

-          Ego

Ego adalah dibawa sejak lahir, tetapi berkembang seiring dengan hubungan individu dengan lingkungan. Prinsipnya realitas atau kenyataan. Untuk bisa bertahan hidup,individu tidak bisa semata-mata bertindak sekedar mengikuti impuls-impuls atau dorongan-dorongan,individu harus belajar menghadapi realitas.sebagai ilustrasi dari pernyataan ini,”seorang anak harus belajar bahwa dia tidak bisa mengambil makanan karena terdorong secara impulsif ketika dia melihat makanan”. Jika ia mengambil makanan itu dari orang yang lebih besar,maka ia akan kena pukul. Ia harus memahami realita sebelum bertindak. Bagian dari jiwa atau struktur kepribadian yang menunda impuls secara langsung dan memahami realita seperti ini disebut ego.  
Menurut Freud, ego adalah struktur kepribadian yang berurusan dengan tuntutan realita,berisi penalaran dan pemahaman yang tepat. Ego berusaha menahan tindakan sampai dia memiliki kesempatan untuk memahami realitas secara akurat,memahami apa yang sudah terjadi didalam situasi yang berupa dimasa lalu,dan membuat rencana yang realistik dimasa depan. Tujuan ego adalah menemukan cara yang realistis dalam rangka memuaskan Id.
Ego mempunyai beberapa fungsi diantaranya : menahan menyalurkan dorongan, mengatur desakan dorongan-dorongan yang sampai pada kesadaran, mengarahkan suatu perbuatan agar mencapai tujuan yang diterima, berfikir logis serta mempergunakan pengalaman emosi-emosi kecewa sebagai tanda adanya suatu yang salah,yang tidak benar,agar kelak dapat dikategorikan dengan hal lain untuk memusatkan apa yang akan dilakukan sebaik-baiknya.

-          Super Ego

Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua  dan masyarakat - kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.

Ada dua bagian superego:

Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.
Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.

Interaksi dari Id, Ego dan superego

Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatan-kekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.

4.      Erikson (Tahapan Pembangunan Psikososial) 
Teori Erik Erikson tentang delapan tahap perkembangan manusia adalah salah satu teori terbaik yang dikenal dalam psikologi. Teori ini didasarkan pada tahapan Freud tentang perkembangan psikoseksual, Erikson memilih untuk fokus pada pentingnya hubungan sosial pada pengembangan kepribadian. Teori ini juga melampaui masa kanak-kanak untuk melihat perkembangan di seluruh umur.
Tahap 1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)
·         Terjadi pada usia 0 s/d 18 bulan
·         Tingkat pertama teori perkembangan psikososial Erikson terjadi antara kelahiran sampai usia satu tahun dan merupakan tingkatan paling dasar dalam hidup.
·         Oleh karena bayi sangat bergantung, perkembangan kepercayaan didasarkan pada ketergantungan dan kualitas dari pengasuh kepada anak.
·         Jika anak berhasil membangun kepercayaan, dia akan merasa selamat dan aman dalam dunia. Pengasuh yang tidak konsisten, tidak tersedia secara emosional, atau menolak, dapat mendorong perasaan tidak percaya diri pada anak yang di asuh. Kegagalan dalam mengembangkan kepercayaan akan menghasilkan ketakutan dan kepercayaan bahwa dunia tidak konsisten dan tidak dapat di tebak.
Tahap 2. Otonomi (Autonomy) VS malu dan ragu-ragu (shame and doubt)
·         Terjadi pada usia 18 bulan s/d 3 tahun
·         Tingkat ke dua dari teori perkembangan psikososial Erikson ini terjadi selama masa awal kanak-kanak dan berfokus pada perkembangan besar dari pengendalian diri.
·         Seperti Freud, Erikson percaya bahwa latihan penggunaan toilet adalah bagian yang penting sekali dalam proses ini. Tetapi, alasan Erikson cukup berbeda dari Freud. Erikson percaya bahwa belajar untuk mengontrol fungsi tubuh seseorang akan membawa kepada perasaan mengendalikan dan kemandirian.
·         Kejadian-kejadian penting lain meliputi pemerolehan pengendalian lebih yakni atas pemilihan makanan, mainan yang disukai, dan juga pemilihan pakaian.
·         Anak yang berhasil melewati tingkat ini akan merasa aman dan percaya diri, sementara yang tidak berhasil akan merasa tidak cukup dan ragu-ragu terhadap diri sendiri.
Tahap 3. Inisiatif (Initiative) vs rasa bersalah (Guilt)
·         Terjadi pada usia 3 s/d 5 tahun.
·         Selama masa usia prasekolah mulai menunjukkan kekuatan dan kontrolnya akan dunia melalui permainan langsung dan interaksi sosial lainnya. Mereka lebih tertantang karena menghadapi dunia sosial yang lebih luas, maka dituntut perilaku aktif dan bertujuan.
·         Anak yang berhasil dalam tahap ini merasa mampu dan kompeten dalam memimpin orang lain. Adanya peningkatan rasa tanggung jawab dan prakarsa.
·         Mereka yang gagal mencapai tahap ini akan merasakan perasaan bersalah, perasaan ragu-ragu, dan kurang inisiatif. Perasaan bersalah yang tidak menyenangkan dapat muncul apabila anak tidak diberi kepercayaan dan dibuat merasa sangat cemas.
·         Erikson yakin bahwa kebanyakan rasa bersalah dapat digantikan dengan cepat oleh rasa berhasil.
Tahap 4. Industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri)
·         Terjadi pada usia 6 s/d pubertas.
·         Melalui interaksi sosial, anak mulai mengembangkan perasaan bangga terhadap keberhasilan dan kemampuan mereka.
·         Anak yang didukung dan diarahkan oleh orang tua dan guru membangun peasaan kompeten dan percaya dengan ketrampilan yang dimilikinya.
·         Anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali dukungan dari orang tua, guru, atau teman sebaya akan merasa ragu akan kemampuannya untuk berhasil.
·         Prakarsa yang dicapai sebelumnya memotivasi mereka untuk terlibat dengan pengalaman-pengalaman baru.
·         Ketika beralih ke masa pertengahan dan akhir kanak-kanak, mereka mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual.
·         Permasalahan yang dapat timbul pada tahun sekolah dasar adalah berkembangnya rasa rendah diri, perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif.
·         Erikson yakin bahwa guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan ketekunan anak-anak.
Tahap 5. Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas)
·         Terjadi pada masa remaja, yakni usia 10 s/d 20 tahun
·         Selama remaja ia mengekplorasi kemandirian dan membangun kepakaan dirinya.
·         Anak dihadapkan dengan penemuan siapa mereka, bagaimana mereka nantinya, dan kemana mereka menuju dalam kehidupannya (menuju tahap kedewasaan).
·         Anak dihadapkan memiliki banyak peran baru dan status sebagai orang dewasa –pekerjaan dan romantisme, misalnya, orangtua harus mengizinkan remaja menjelajahi banyak peran dan jalan yang berbeda dalam suatu peran khusus.
·         Jika remaja menjajaki peran-peran semacam itu dengan cara yang sehat dan positif untuk diikuti dalam kehidupan, identitas positif akan dicapai.
·         Jika suatu identitas remaja ditolak oleh orangtua, jika remaja tidak secara memadai menjajaki banyak peran, jika jalan masa depan positif tidak dijelaskan, maka kebingungan identitas merajalela.
·         Namun bagi mereka yang menerima dukungan memadai maka eksplorasi personal, kepekaan diri, perasaan mandiri dan control dirinya akan muncul dalam tahap ini.
·         Bagi mereka yang tidak yakin terhadap kepercayaan diri dan hasratnya, akan muncul rasa tidak aman dan bingung terhadap diri dan masa depannya.
Tahap 6. Intimacy vs isolation (keintiman vs keterkucilan)
·         Terjadi selama masa dewasa awal (20an s/d 30an tahun)
·         Erikson percaya tahap ini penting, yaitu tahap seseorang membangun hubungan yang dekat dan siap berkomitmen dengan orang lain.
·         Mereka yang berhasil di tahap ini, akan mengembangkan hubungan yang komit dan aman.
·         Erikson percaya bahwa identitas personal yang kuat penting untuk mengembangkan hubungan yang intim. Penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang memiliki sedikit kepakaan diri cenderung memiliki kekurangan komitemen dalam menjalin suatu hubungan dan lebih sering terisolasi secara emosional, kesendirian dan depresi.
·         Jika mengalami kegagalan, maka akan muncul rasa keterasingan dan jarak dalam interaksi dengan orang.
Tahap 7. Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan)
·         Terjadi selama masa pertengahan dewasa (40an s/d 50an tahun).
·         Selama masa ini, mereka melanjutkan membangun hidupnya berfokus terhadap karir dan keluarga.
·         Mereka yang berhasil dalam tahap ini, maka akan merasa bahwa mereka berkontribusi terhadap dunia dengan partisipasinya di dalam rumah serta komunitas.
·         Mereka yang gagal melalui tahap ini, akan merasa tidak produktif dan tidak terlibat di dunia ini.
Tahap 8. Integrity vs depair (integritas vs putus asa)
·         Terjadi selama masa akhir dewasa (60an tahun)
·         Selama fase ini cenderung melakukan cerminan diri terhadap masa lalu.
·         Mereka yang tidak berhasil pada fase ini, akan merasa bahwa hidupnya percuma dan mengalami banyak penyesalan.
·         Individu akan merasa kepahitan hidup dan putus asa
·         Mereka yang berhasil melewati tahap ini, berarti ia dapat mencerminkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami.
·         Individu ini akan mencapai kebijaksaan, meskipun saat menghadapi kematian.

5.      Kohlberg (Tahapan Pembangunan Moral) 
Lawrence Kohlberg mengembangkan teori pengembangan psikologi kepribadian yang berfokus pada pertumbuhan pemikiran moral. Bangunan pada proses dua-tahap yang diusulkan oleh Piaget, kemudian Kohlberg memperluas teori untuk meliputi enam tahapan yang berbeda. Sementara teori tersebut telah dikritik karena beberapa alasan yang berbeda, termasuk kemungkinan bahwa ia tidak mengakomodasi jenis kelamin yang berbeda dan budaya yang sama, tetapi teori Kohlberg tetap penting dalam pemahaman tentang pengembangan psikologi kepribadian.

6.      Allport mengemukakan bahwa “Personality is the dinamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjustment to his environtment”. Secara harfiah, pengertian itu dapat diartikan bahwa: “kepribadian merupakan organisasi yang dinamis dalam diri individu tentang sistem psikofisik yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungannya”. Secara lebih rinci definisi Allport ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

-          Dynamic, merujuk kepada perubahan kualitas perilaku (karakteristik) individu, dari waktu ke waktu, atau dari situasi ke situasi.
-          Organization, yang menekankan pemolaan bagian-bagian struktur kepribadian yang independen, yang masing-masing bagian tersebut mempunyai hubungan khusus satu sama lainnya. Ini menunjukkan bahwa kepribadian itu bukan kumpulan sifat-sifat, dalam arti satu sifat ditambah dengan yang lainnya, melainkan keterkaitan antara sifat-sifat tersebut, yang satu sama lainnya saling berhubungan atau berinterelasi.
-          Psychophysical Systems, yang terdiri atas kebiasaan, sikap, emosi, motif, keyakinan, yang kesemuanya merupakan aspek psikis, tetapi mempunyai dasar fisik dalam diri individu, seperti: syaraf, kelenjar, atau tubuh individu secara keseluruhan. Sistem psikofisik ini meskipun mempunyai fondasi pembawaan, namun dalam perkembangannya lebih dipengaruhi oleh hasil belajar, atau diperoleh melalui pengalaman.
-          Determine, yang menunjuk pada peranan motivasional sistem psikofisik. Dalam diri individu, sistem ini mendasari kegiatan-kegiatan yang khas, yang mempengaruhi bentuk-bentuk. Sikap, keyakinan, kebiasaan, atau elemen-elemen sistem psikofisik lainnya muncul melalui sistem stimulus, baik dari lingkungan, maupun dari dalam diri individu sendiri.
-          Unique, yang menunjuk pada keunikan atau keragaman tingkah laku individu sebagai ekspresi dari pola sistem psikofisiknya. Dalam proses penyesuaian diri terhadap lingkungan, tidak ada reaksi atau respon yang sama dari dua orang, meskipun kembar identik.

Pengertian yang dikemukakan oleh Allport ini menunjukkan bahwa kepribadian itu bersifat dinamis dan unik. Dinamika kepribadian terkait dengan dimensi waktu dan lingkungan dimana individu itu berada. Keunikan kepribadian membuat setiap individu memberikan reaksi atau respon yang berbeda-beda terhadap lingkungan.

Sumber :
http://harycalonpsikolog.wordpress.com/2011/11/30/teori-kepribadian-aliran-psikoanalisa-sigmund-freud/

Pengertian Kesehatan Dilihat Dari 5 Dimensi


Pengertian Kesehatan
Secara umum, pengertian kesehatan yaitu suatu kondisi atau keadaan secara umum seseorang dari segi semua aspek. Dalam pengertian ini dimaksudkan bahwa kesehatan merupakan tingkat keefisienan dari fungsional dengan atau tanpa metabolisme dari suatu organisme dan juga termasuk manusia. Kesehatan dapat juga diartikan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Menurut Undang-Undang, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pada tahun 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa pengertian kesehatan adalah sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan hidup. Kesehatan adalah konsep positif menekankan sumber daya sosial dan pribadi, serta kemampuan fisik. Seseorang dikatakan sehat apabila ia memiliki tubuh jasmaniah yang sehat, tidak berpenyakit, gizi yang baik, psike (mental) rukhaniyah yang tenang, tidak gelisah, mempunyai kedudukan sosial yang baik, mempunyai kehidupan dan rumah berlindung, serta dihargai sebagai manusia (WHO,1984). Di dalam artikel ini saya akan menjelaskan konsep kesehatan berdasarkan dimensi emosi, intelektual, sosial, fisik, dan spiritual.
1.     Dimensi Emosi, yaitu dimensi yang meihat dari bagaimana reaksi emosinya seperti menangis, sedih, bahagia, depresi, optimis. Kesehatan Emosional/Afektif dilihat dari kemampuan mengenal emosi dan mengekspresikan emosi tersebut secara tepat.

2.     Dimensi Intelektual yaitu dimensi yang melihat bagaimana seseorang berfikir dilihat dari wawasannya, pemahamannya, alasannya, logika dan pertimbangnnya. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.

3.     Dimensi Sosial yaitu dimensi yang melihat dari tingkah laku manusia dalam kelompok sosial, keluarga dan sesama lainnya serta penerimaan norma sosial dan pengendalian tingkah laku. Kesehatan Sosial dapat dilihat dari kemampuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain, perilaku kehidupan dalam masyarakat. Kesehatan sosial dapat dilihat juga dari kemampuan untuk memelihara dan memajukan kehidupan pribadi dan keluarganya sehingga memungkinkan bekerja, beristirahat dan menikmati hiburan pada waktunya (UU No 9: pasal 3). Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial,ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai. Dalam arti yang lebih hakiki, kesejahteraan sosial adalah suasana kehidupan berupa perasaan aman damai dan sejahtera, cukup pangan, sandang dan papan. Dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, masyarakat hidup tertib dan selalu menghargai kepentingan orang lain serta masyarakat umum.

4.     Dimensi Fisik merupakan dimensi yang dapat ditelaah secara langsung atau memiliki dimensi yang paling nyata. Kesehatan fisik dapat dilihat dari kemampuan mekanistik dari tubuh. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan. Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.

5.     Dimensi Spiritual dilihat dari kepercayaan dan praktek keagamaan. Kesehatan spiritual dapat dilihat dari kemampuan seseorang dalam mencapai kedamaian hati.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa misalnya dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.

Kesimpulan :
            Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa masing-masing dimensi kesehatan tersebut memiliki peran masing-masing dan saling berhubungan serta memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, masing-masing dimensi tersebut harus seimbang serta saling melengkapi satu sama lain. Dengan demikian jika ada perubahan pada salah satu bagian, maka kesempurnaan tersebut akan terganggu. Inilah yang menyebabkan mengapa masalah kesehatan adalah sesuatu yang cukup rumit. Sebab kesemua faktor ini saling tumpang tindih dan berinteraksi. Pemikiran dasar inilah yang membentuk konsep kesehatan total atau kesehatan seutuhnya. Sebab masing-masing dimensi ini saling mempengaruhi, apa yang terjadi dalam suatu dimensi akan terjadi juga pada dimensi-dimensi lainnya. Setiap individu perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton.

Sumber :

Sunday, April 7, 2013


Tujuan Mempelajari Ilmu Alamiah Dasar

Pengertian
Pengertian matematika sangat sulit didefinsikan secara akurat. Pada umumnya orang awam hanya mengetahui  satu cabang matematika elementer yang disebut aritmatika atau ilmu hitung yang secara informal dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang berbagai bilangan melalui beberapa operasi dasar: tambah, kurang, kali dan bagi. Matematika sendiri berasal dari bahasa yunani adalah studi besaranstrukturruang, dan perubahan. Sedangkan ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. Ilmu Alamiah Dasar itu sendiri hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial saja.
Ilmu Alamiah Dasar dapat juga diartikan sebagai pengetahuan dasar manusia dalam mempelajari alam semesta secara universal. Ilmu Alamiah Dasar dikatakan sebagai konsep awal terbentuknya Ilmu Pengetahuan Alam dan semua turunannya, seperti Biologi, Fisika dan Kimia. Ketiga Ilmu tersebut juga memiliki turunan lagi. Ilmu Alamiah Dasar merupakan Disiplin Ilmu yang bersifat relatif dan dapat berubah sesuai kemajuan peradaban manusia.


Keterkaitan Antara Matematika dan IAD dengan Psikologi
           
            Matematika adalah ilmu eksak yang berkaitan dengan perhitungan dan angka-angka, IAD berkaitan dengan ilmu yang mengkaji gejala-gejala di alam semesta, dan Psikologi ialah ilmu yang mempelajari tentang manusia mengenai kejiwaan, perilaku dan perkembangannya.
            Jadi dari hal tersebut dapat kita lihat bahwa keterkaitan diantara ketiganya ialah di dalam IAD tidak bisa dilepaskan pula dari ilmu sosial yang mempelajari mengenani tingkah laku serta interaksi antar manusia dimana Psikologi juga mempelajari hal tersebut, sehingga kedua ilmu tersebut sangat berkaitan dan berjalan bersamaan. Sementara kaitannya dengan Matematika adalah bahwa tingkah laku dan interaksi manusia tersebut dapat dijelaskan secara logika dimana ilmu Matematika merupakan ilmu eksak atau ilmu pasti yang tentunya menggunakan logika sebagai prinsip dasar.

Tujuan Mempelajari Matematika dan IAD
            Jika dilihat dari kaitannya dengan ilmu psikologi maka dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu Matematika dan IAD dapat digunakan dalam ilmu Psikologi sebagai alat atau metode di dalam menjelaskan gejala tingkah laku atau interaksi manusia berdasarkan pemikiran logis yang tentunya sesuai dengan fakta yang ada. Sehingga dengan adanya ilmu ini, Psikologi yang merupakan ilmu sosial dapat lebih digambarkan dalam pemikiran yang logis dan dapat dengan mudah diterima akal pikiran manusia.



Sunday, November 25, 2012

Final Tugas Psikologi dan Teknologi Internet

Publikasi Online

Secara terminologi, publikasi berarti penyiaran, pengumuman atau penerbitan. Ton kertapati menjelaskan dalam bukunya Dasar -Dasar Publisistik Dalam Perkembangannya Di Indonesia Menjadi Ilmu Komunikasi bahwa istilah publisistik berasal dari kata kerja bahasa latin publicare yang berarti mengumumkan. Dari penjelasan tersebut, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa istilah publikasi dapat diartikan pengumuman tentang suatu hal yang disiarkan lewat media elektronik dan atau diterbitkan di media cetak. Sedangkan dalam penelitian ini, maksud dari publikasi adalah pengumuman pada masyarakat luas melalui media yang dibatasi oleh media televisi. Yang dimaksud publisistik di sini adalah ilmu tentang publikasidan tentunya publikasi berarti aplikasi dari keilmuan tersebut. Ton Kertapati ,dalam bukunya ”Dasar-dasar publisistik dalam perkembangannya di Indonesia menjadi ilmu komunikasi”, menjelaskan bahwa istilah publisistik yang kita kenal pada waktu ini adalah berasal dari istilah bahasa Jerman yaitu PUBLIZIZTIK. Beliau menyatakan pernyataannya demikian: Kata kerja dalam bahasa latin ini kemudian melalui bahasa Jerman kuno PUBLICIRN menjadi PUBLIZIEREN yang juga berarti mengumumkan yaitu dalam bahasa Jerman modern. Dan akhirnya menjadi sebutan bagi ilmu PUBLIZISTIK yang diIndonesiakan menjadi PUBLISISTIK. Maka adalah cukup logik kalau Walter Hagemann menganggap inti dari ilmu publisistik adalahOffentlichen Aussage (pernyataan umum atau pengumuman).

Publikasi situs di masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan pamlet-pamlet, selebaran, baliho, kartu nama dan lain sebagainya tapi cara ini bisa dikatakan masih kurang efektif dan sangat terbatas. Cara yang biasanya dilakukan dan paling efektif dengan tak terbatas ruang atau waktu adalah publikasi langsung di internet melalui search engine-search engine (mesin pencari, spt : Y ahoo, Google, MSN, Search Indonesia, dsb). Publikasi seperti inilah yang dinamakan dengan publikasi online.
Cara publikasi di search engine ada yang gratis dan ada pula yang membayar. Yang gratis biasanya terbatas dan cukup lama untuk bisa masuk dan dikenali di search engine terkenal seperti Yahoo atau Google . Cara efektif publikasi adalah dengan membayar, walaupun harus sedikit mengeluarkan akan tetapi situs cepat masuk kesearch engine dan dikenal oleh pengunjung.


Sumber: 


Etika Dalam Penelitian Dengan Menggunakan Bantuan Internet

Menurut Nazif (2003) etika ialah panduan berbuat bagi orang lain di lingkungan organisasi, atau profesi atau cabang ilmu pengetahuan itu: (1) semacam rambu-rambu-dalam hal ini menjadilah etika sebagai bagian awal pengaturan- atau (2) sebagai yang ideal yang ingin dicapai-dalam hal ini menjadi semacam yang ingin dituju sebagai suatu kemuliaan atau dambaan. Menurut Bertens (1994:27). Etika tidak jarang disebut juga “filsafat praktis”. “Praktis karena cabang ini langsung berhubungan dengan perilaku manusia, dengan yang harus atau tidak boleh dilakukan manusia. Prinsip moral yang biasa mendasari kode berperilaku ialah tak mencederai, pertolongan, mandiri, adil, berguna, setia, jujur dan hormat sesama. Etika dibagi menjadi dua, yakni bagaimana melakukan pelaporan setiap aktifitas penelitian dan bagaimana agar hasil penelitian itu dapat digunakan secara bertanggungjawab.Pelanggaran etika memang bisa dikelompokkan karena hal itu disesuaikan dengan masalah yang dilanggar. Plagiarisme merupakan pelanggaran yang paling sering bisa dideteksi karena melakukan pengutipan yang hampir sama dengan aslinya sehingga plagiarisme didefinisikan using someone else’s ideas or phrasing and representing those ideas or phrasing as our own, either on purpose or through carelessness, is serious offense. Pelanggaran dalam mengutip (plagiat) biasanya dibagi menjadi (Wiradi, 1996: 41-45) .
1. Plagiat kata per kata (verbatim Plagiarism).Dibedakan lagi menjadi dua:
  • Penjiplakan mutlak, yaitu suatu kutipan yang mengandung kata demi kata demikian juga susunan kalimatnya persis sama dengan seperti apa yang tertulis di teks sumber. Berarti mirip kutipan langsung namun tanpa tanda petik dan tanpa sumber.
  • Mirip seperti penjiplakan mutlak, tapi satu dua kata asli diganti atau dihilangkan atau ada satu dua kata sendiri yang dimasukan.
2. Patchwork Plagiat
Jiplakan dengan cara sekedar memindah-mindahkan kata-kata aslinya ke sana ke mari. Sehingga mirip parafrase.
3. Plagiat “kata kunci” atau “frase-kunci”
Mirip dengan patchwork namun kata kunci saja dan/atau frase-kunci.
4. Plagiat struktur gagasan/jalan pikiran
Merupakan jiplakan panjang, terdiri dari banyak rangkaian kalimat, bahkan banyak alinea. Yang dijiplak struktur atau pola gagasan atau pola argumentasi orang lain.
Sebenarnya pada saat siswa duduk di sekolah dasar terutama SLTP telah diperkenalkan tentang bagaimana melakukan pengutipan gagasan/data yang dimiliki oleh orang lain namun persoalannya adalah tidak ditekankan pentingnya pengutipan itu untuk menghindari kebohongan dan merangsang untuk mencari gagasan yang lain. Untuk lebih memahami ini, kata Newton, we can see far to the fore because us stand up at shoulder all giant (kita bisa melihat jauh kedepan karena kita berdiri pada pundak para raksasa). Jadi senantiasa harus menghormati apa yang telah dilakukan oleh orang lain karena tanpa mereka kita akan bekerja lebih keras padahal dengan saling membantu apa yang kita ingin capai lebih mudah terwujud.
Namun persoalannya, budaya menulis kita memang kurang dikembangkan, ada saja guru/pendidik yang tidak mau berpayah-payah menekankan menulis dalam praktek sekaligus memaksakan peserta didiknya untuk mempraktekkan prosedur mengutip gagasan/data akibatnya prosedurnya hanya dihapalkan yang tentu saja akan mudah hilang. Lihat saja mahasiswa dari tingkat awal akhir (skripsi mahasiswa banyak yang kurang memahami ini) ada saja yang mengambil ide yang bukan miliknya akibatnya kalau tidak awas, kita akan mengangap mahasiswa itu cerdas. Kembali ke penelitian, Menurut Padmadinata (2004), ilmuwan (seringkali juga peneliti) sebagai manusia memiliki kelemahan, antara lain ego, ceroboh, berbuat salah, menyampaikan data yang salah atau menyembunyikan data, mencuri data atau mengambil data peneliti lain, status dan dana riset dengan mengirimkan proposal sehingga diperlukan pendidikan etika dengan strategi yang ditawarkan oleh David Resnik dalam buku The Ethics of Science, 1998 yang dikutip Nazif (2004), mempromosikan etika secara informal sehingga ada yang sebagai teladan dan mentor menyiapkan contoh yang baik dan menjelaskan bahwa pengetahuan etika dalam ilmu adalah upaya memperoleh pengetahuan secara berangsur-angsur. Selain itu perlu mengandalkan instruksi secara informal yang dibagi menjadi 2 yaknietika sendiri dalam mengset ruang kelas, membaca tentang etika dan menulisnya, dan mendiskusikan kasus dan masalahnya dan etika penelitian untuk membuat peka kepada siswa/mahasiswa agar pentingnya isu etika. Lalu membantu siswa/mahasiswa belajar untuk memikirkan isu etika, memecahkan dilema etika, membantu menolong menyediakan tambahan motivasi untuk kelakuan yang beretika yang memperbolehkan siswa/mahasiswa untuk memahami kebenaran untuk standar tingkah laku dalam ilmu pengetahuan. Ini jelas sekali di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dikenal. ……Di Indonesia sendiri, sekitar awal tahun 1980-an, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah mengkampanyekan suatu seruan

Sumber :



Game Online 

Game online adalah game yang berbasis elektronik dan visual. Game online dimainkan dengan memanfaatkan media visual elektronik yang biasanya menyebabkan radiasi pada mata, sehingga mata pun lelah dan biasanya diiringi dengan sakit kepala. 

Game online adalah game yang menyediakan server-server tertentu agar bisa dimainkan. Namun, game online berbeda dari game yang lain, game online tidak ada akhirnya dan game online dapat juga menghasilkan uang tambahan yaitu dengan menukarkan mata uang di game online dengan bentuk rupiah atau bisa juga dengan menjual karakter game online kepada orang lain. Bila sudah “dewa”, harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Sumber :


Saturday, November 24, 2012

Computer Supported Coperative Work




Istilah Computer Supported Cooperative Work (CSCW) pertama kali digunakan oleh Irene Greif dan Paul M. Cashman pada tahun 1984, pada sebuah workshop yang dihadiri oleh mereka yang tertarik dalam menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan mereka.. Pada kesempatan yang sama pada tahun 1987, Dr. Charles Findley mempresentasikan konsep 
collaborative learning-work. CSCW mengangkat isu seputar bagaimana aktivitas-aktivitas kolaboratif dan koordinasi didalamnya dapat didukung teknologi komputer. Beberapa orang menyamakan CSCW dengan groupware, namun yang lain mengatakan bahwa groupware merujuk kepada wujud nyata dari sistem berbasis komputer, sedangkan CSCW berfokus pada studi mengenai kakas dan teknik dari groupware itu sendiri, termasuk didalamnya efek yang timbul baik secara psikologi maupun sosial.


Computer Supported Cooperative Work (CSCW) adalah bidang studi yang berfokus pada perancangan dan evaluasi teknologi baru untuk mendukung proses sosial kerja, dikarenakan mitra yang berjauhan. Istilah Computer Supported Cooperative Work (CSCW) pertama kali digunakan oleh Irene Greif dan Paul M. Cashman pada tahun 1984, pada sebuah workshop yang dihadiri oleh mereka yang tertarik dalam menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan mereka. Dimana saat itu CSCW mengangkat isu seputar bagaimana aktivitas-aktivitas kolaboratif dan koordinasi didalamnya dapat didukung teknologi komputer. Kemudian beberapa orang berpendapat CSCW sama dengan Groupware. Groupware adalah jenis software yang membantu kelompok kerja yang terhubung ke jaringan untuk mengelola aktivitas mereka.


Mungkin salah satu contohnya penerapan CSCW pada bidang pendidikan yaitu dimana para siswa melakukan kelas virtual dan saat itu sedang mengerjakan ulangan harian dimana para siswanya saat melakukannya tidak benar-benar berada di kelas tetapi bisa dimana saja yang memungkinkan siswa tersebut untuk bisa terhubung pada suatu jaringan. Contoh lainnya yaitu fasilitas chating dimana seseorang bisa berdiskusi melalui antarmuka teks tanpa harus bertatap muka secara langsung.



Matriks CSCW


Salah satu bentuk umum konseptualisasi sistem CSCW adalah dengan mengamati konteks dari penggunaan sistem tersebut. Contohnya adalah matriks CSCW, yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1988 oleh Johansen; dan juga muncul pada. Matriks dimaksud membagi konteks sebuah "work" ke dalam dua dimensi yakni waktu dan lokasi. Dimensi waktu dibagi menjadi kolaborasi yang dilakukan pada waktu yang bersamaan (sinkron), atau berbeda (asinkron). Dimensi lokasi dibagi menjadi kolaborasi yang dilakukan pada tempat yang sama, atau tempat yang terdistribusi.



Sumber :