Wednesday, October 25, 2017

Sel Sebagai Dasar Kehidupan

Pengertian

Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel, karena itulah sel dapat berfungsi atau bahkan hidup sendiri asalkan kebutuhannya terpenuhi.. Sel adalah bagian terkecil dari tubuh makhluk hidup baik secara struktural maupun fungsional. Dalam tubuh makhluk hidup sel tidak berkerja sendiri tapi secara berkelompok. Sekelompok sel yang mempunyai fungsi yang sama membentuk jaringan, sekumpulan jaringan akan membentuk organ, sekelompok organ akan membentuk sistem organ dan sekumpulan sistem organ akan membentuk organisme.

Sel mampu melakukan semua aktivitas kehidupan dan sebagian besar reaksi kimia untuk mempertahankan kehidupan berlangsung di dalam sel Kebanyakan makhluk hidup tersusun atas sel tunggal, atau disebut organisme uniseluler, misalnya bakteri dan amoeba. Makhluk hidup lainnya, termasuk tumbuhanhewan, dan manusia, merupakan organisme multiseluler yang terdiri dari banyak tipe sel terspesialisasi dengan fungsinya masing-masing.

Kata sel berasal dari bahasa latin cellulae yang artinya kamar-kamar kacil. Menurut Campbell di bukunya yang berjudul Biologi jilid 1 (edisi ke delapan).  Sel berasal dari kata “cella ” (Yunani) yang berarti ruangan berukuran kecil. Sel pertama kali diamati oleh seorang ilmuwan Inggris, Robert Hook pada tahun 1665. Dan dilanjutkan oleh penelitian Antoni Van Leuwenhoek yang kemudian terkenal sebagai bapak mikrobiogi. Namun baru pada akhir abad ke 18 para ilmuwan berhasil menyimpulkan bahwa makhluk hidup tersusun atas sel. Dan pada tahun 1885 diketahui bahwa sel dapat berkembang biak dengan membelah diri untuk membentuk sel-sel baru.

Bagian-bagian dari sel
Sel sebagai bagian terkecil dari suatu organisme terdiri dari beberapa bagian. Secara umum, sel terbagi menjadi  3 bagian yaitu:
1.      Selaput plasma (plasmalemma)
2.      Sitoplasma dan Organel
3.      Inti sel

 Fungsi Sel

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa sel merupakan pengatur dan pengontrol seluruh aktivitas tubuh makhluk hidup, baik yang disadari maupun tidak disadari. Fungsi ini dijalankan tidak hanya oleh satu sel, namun sekelompok sel yang membentuk jaringan, kemudian jaringan dengan tujuan yang sama akan membentuk organ, lalu beberapa organ membentuk sistem organ, dan sistem organ membentuk makhluk hidup (organisme). Robert Hooke merupakan ilmuan pertama yang melakukan pengamatan sel secara tidak sengaja, ia mengamati sel gabus dari tumbuhan oak di bawah mikroskop dan kemudian menemukan rongga-rongga kosong seperti sarang lebah, yang kemudian dinamakan sel. Secara umum fungsi sel yang sekaligus menjadi teori sel adalah sebagai berikut :
·        Sel sebagai unit fungsional tubuh (Teori yang dikemukakan oleh Max schultze)
·        Sel sebagai unit struktural tubuh (Teori yang dikemukakan oleh Mathias Jacob Schleiden dan Theodor Schwaan)
·        Sel sebagai unit pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup (Rudolf Virchow)
·        Sel sebagai kesatuan hereditas (pewarisan sifat) yang dapat menurunkan sifatnya kepada keturunannya (Teori ini diperkenalkan oleh Walter Sutton dan Theodor Boveri)

Struktur Sel
Secara umum sel terdiri atas 3 bagian utama, yaitu Membran sel, sitoplasma, dan Inti sel. Sel juga memiliki komponen padat di dalam sitoplasma yang disebut organel sel. Organel – organel sel memiliki fungsi masing-masing. Berikut adalah penjelasan tentang Bagian-bagian Sel.

1. Membran Sel / Membran plasma
Membran sel adalah selaput tipis yang merupakan bagian terluar dari sel, membran sel juga sering disebut plasmalema. Membran sel merupakan bagian yang mengatur hubungan antara komponen dalam sel dengan lingkungan luar sel. Membran sel terdiri dari lipid (lemak) berupafosfolipid, protein, dan karbohidrat dengan komposisi yang berbeda-beda tergantung jenis selnya. Sesuai dengan namanya, Fosfolipid (senyawa lemak) disusun oleh fosfat yang bersifathidrofilik (suka air) dan lipid yang bersifat hidrofobik (takut air).

Membran sel berfungsi sebagai barier/tameng semipermeabel yang memungkinkan molekul yang berukuran kecil dapat keluar masuk ke dalam sel. Hasil pengamatan mikroskop elektron terhadap membran sel menunjukkan bahwa membran sel merupakan lipid bilayer. (disebut sebagai fluid-mosaic model).

Molekul penyusun utama adalah fosfolipid, yang terdiri dari bagian kepala yang polar (hidrofilik) dan dua ekor nonpolar (hidrofobik). Fosfolipid ini tersusun atas bagian nonpolar membentuk daerah hidrofobik yang diapit oleh daerah kepela yang pada bagian dalam dan luar membran.

Membran sel disusun oleh setiap fosfolipid yang berpasangan (lemak) sehingga disebut juga lipid bilayer. Protein yang dimiliki membran sel adalah protein ekstrinsi (perifer) dan protein intrinsik (integral). Protein ekstrinsi (perifer) adalah protein yang menempel pada lapisan luar membran, sedangkan protein intrinsik (integral) adalah protein yang menembus membran. Ikatan antara fosfolipid dan protein ekstrinsik akan membentuk membran yang disebut lipoprotein. Membran sel dapat memiliki sifat semipermiabel yaitu mudah dilewati oleh berbagai komponen, juga dapat bersifat selektif permiabel yang artinya hanya dapat dilewati oleh ion-ion tertentu saja.
Struktur membran sel disusun dari lemak dan protein di mana setiap komponen diikat oleh ikatan nonkovalen. Selain lemak dan protein, struktur membran sel juga terdiri dari karbohidrat.

Rasio antara lemak dan protein bervariasi bergantung tipe membran seluler misalnya antara membran plasma dan retikulum endoplasma. Tipe organisme prokariot dan eukariot juga memiliki rasio struktur yang berbeda. Membran mitokondria memiliki rasio struktur protein/lemak yang tinggi dibandingkan membran plasma pada sel darah merah.

Lipid pada membran tersusun atas fosfolipid (lemak yang bersenyawa dengan fosfat). Fosfolipid merupakan lipid yang jumlahnya paling melimpah dalam sebagian besar membran. Fosfolipid berperan untuk membentuk membran disebabkan oleh struktur molekulernya.


Fosfolipid merupakan suatu molekul amfipatik yang berarti bahwa molekul ini memiliki daerah hidrofilik maupun daerah hidrofobik. Sebagian besar membran mengandung fosfat,

Molekul fosfat ini bersifat hidrofilik (dapat mengikat air) sedangkan molekul lemak bersifat hidrofobik (tidak dapat mengikat air).

Komponen lemak lain adalah kolesterol di mana pada hewan tertentu dapat mencapai 50% dari molekul lemak yang terdapat pada membran plasma. Kolesterol tidak terdapat pada sebagai besar membran plasma tumbuhan dan bakteri.

Lipid yang terdapat pada selaput dapat diekstrak dengan kloroform, eter dan benzene. Dengan menggunakan kromatografi lapis tipis dan kromatografi gas, dapat diketahui komposisi lipid pada selaput sel. Lipid yang selalu dijumpai adalah fosfolipid, sfingolipid, glikolipid dan sterol. Kolesterol merupakan lipida terbanyak yang menyusun selaput sel.


Karbohidrat

Peran membran karbohidrat sebagai penyusun sel adalah untuk membedakan tipe-tipe sel di sekitarnya. Karbohidrat juga berperan penting untuk memilih sel menjadi penyusun berbagai jaringan dan organ dalam embrio hewan.

Pengenalan sel dengan sel juga menjadi dasar penolakan sel asing (penolakan organ cangkokan atau transplantasi) oleh sistem kekebalan.

Karbohidrat pada membran biasanya  merupakan rantai pendek bercabang yang tersusun kurang dari 15 unit gula sebagjan diantaranya berikatan kovalen dengan lipid, membentuk molekul yang disebut glikolipid (glycolipid). Akan tetapi sebagian besar karbohidrat berikatan kovalen dengan protein, membentuk glikoprotein.

Protein

Membran protein tersusun atas glikoprotein atau protein yang bersenyawa dengan karbohidrat. Bergantung pada tipe sel dan organel tertentu dalam sel, membran memiliki 12 sampai lebih dari 50 macam protein berbeda. Protein ini tidak disusun secara acak tetapi setiap lokasi dan orientasinya disusun pada posisi relatif tertentu pada lipid bilayer.

Protein pada membran tidak simetris yakni bagian luar membran dan bagian dalam membran tersusun berbeda. Posisi seperti ini memungkinkan membran sebelah luar berinteraksi dengan dengan ligan sektraseluer seperti hormon dan faktor pertumbuhan sedangkan bagian dalam dapat berinteraksi dengan molekul sitoplasma seperti protein G atau protein kinase. Terdapat dua lapisan utama membran protein.

Protein integral

Protein integral adalah protein yang berpenetrasi kedalam lipid bilayer. Protein ini dapat menembus membran sehingga memiliki domain pada sisi ekstra seluler dan sitoplasmik dari membran. Protein integral umumnya merupakan protein transmembran, dengan daerah hidrofobik yang seluruhnya membentang sepanjang interior membran hidrofobik tersebut.

Daerah hidrofobik protein integral terdiri atas satu atau lebih rentangan asam amino nonpolar, yang biasanya bergulung menjadi helix a. pada ujung hidrofilik molekul ini dipaparkan kelarutan aqueous pada kedua sisi membran.

Protein perifer

Protein periferal sama sekali tidak tertanam dalam lipid bilayer. Seluruhnya berlokasi dibagian luar dari lipid bilayer, baik itu di permukaan sebelah ekstraseluler maupun sitoplasmik dan berhubungan dengan membran malalui ikatan non kovalen. Protein ini merupakan anggota yang terikat secara longgar pada permukaan membran, sering juga pada bagian protein integral yang dibiarkan terpapar. Protein pada membran menentukan sebagian besar fungsi spesifik membran.



Protein membran plasma memiliki fungsi yang sangat luas antara lain sebagai protein pembawa (carrier) senyawa melalui membran sel, penerima isyarat (signal) hormonal dan meneruskan isyarat tersebut ke bagian sel sendiri atau sel lainnya. Protein selaput plasma juga berfungsi sebagai pengikat komponen sitoskeleton dengan senyawa-senyawa ekstraseluler.

Protein-protein permukaan luar memberikan ciri individual sel dan macam protein dapat berubah sesuai dengan diferensiasi sel. Protein-protein pada membran sel banyak juga yang berfungsi sebagai enzim terutama yang terdapat pada selaput mitokondria, retikulum endoplasma dan kloroplas. Sebagai contoh, senyawa-senyawa fosfolipid membran plasma disintesis oleh enzim-enzim yang terdapat pada membran retikulum endoplasma.

Protein membran sel memiliki kemampuan bergerak, sehingga dapat berpindah tempat. Perpindahan berlangsung ke arah lateral dengan jalan difusi. Namun tidak semu protein mampu berpindah tempat. Beberapa jenis protein integral tertahan dalam selaput oleh anyaman molekul-molekul protein yang berada tepat di bawah permukaan dalam selaput plasma. Anyaman ini berhubungan dengan sitoskelet atau rangka sel.

Struktur fisiko-kimia protein selaput sel kurang diketahui, mengingat bahwa bentuknya sangat bervariasi. Berdasarkan kajian mikroskopis dan teknik freeze fracture diketahui bahwa protein dalam selaput sel berbentuk globular.

Kompartemen

Membran plasma membagi protoplasma menjadi beberapa kompartemen (ruangan). Membran sel membungkus seluruh protoplasma. Membran inti memisahkan nukleoplasma dari stoplasma. 

Selain itu selaput plasma membagi sitoplasma menjadi beberapa kompartemen yang disebut dengan organel. Adanya selaput ini pembatas ini sangat penting karena memungkinkan kegiatan setiap kompartemen dapat berlangsung tanpa gangguan dari kompatemen lain namun tetap dapat bekerja sama.

Beberapa fungsi membran sel antara lain adalah sebagai berikut : 
·        Melindungi dan membungkus isi sel.
·        Memisahkan dan mengontrol hubungan bagian dalam sel dengan linkungan luar.
·        Mengatur pertukaran (transportasi) zat dari dalam keluar sel atau sebaliknya.
·        Tempat terjadinya reaksi kimia.

2. Sitoplasma (Cairan Sel)
Sitoplasma atau cairan sel adalah matriks yang terdapat di dalam membran sel selain inti sel (nukleus). Penyusun utama dari sitoplasma ada air yang berfungsi sebagai pelarut dan tempat terjadinya reaksi kimia. Matriks sitoplasma merupakan sitosol(cairan) yang bersifat koloid (bentuk campuran yang terdiri dari 2 zat yang homogen). Matriks sitoplasma dapat berubah dari fase gel (semipadat) ke fase sol (cairan). Matriks sitoplasma memiliki sifat iritabilitas (peka terhadap rangsangan) dan konduktivitas (mampu memindahkan atau meneruskan rangsangan).

Beberapa fungsi sitoplasma sel antara lain adalah sebagai berikut :
·        Tempat berlangsungnya reaksi kimia dan metabolisme.
·        Sebagai tempat menjaga fungsi kehidupan sel.
·        Menjaga keadaan di dalam sel.
·        Mengatur transpor zat di dalam sel.
·        Pembentukan energi.
·        Tempat mengontrol pergerakan sel.

Fungsi tersebut dilakukan oleh organel-organel sel. Seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa di dalam sitoplasma terdapat komponen-komponen padat yang disebut organel sel yang memiliki fungsi khusus masing-masing. Fungsi sel adalah untuk menunjang kehidupan sel tersebut. Beberapa Organel sel antara lain :
·        Mitokondria, berfungsi menghasilkan energi.
·        Lisosom, berfungsi melakukan pencernaan dalam sel. 
·        Ribosom, berfungsi sebagai tempat sintesis protein.
·        Retikulum Endoplasma, berfungsi untuk Transportasi berbagai zat di dalam sel.
·        Badan golgi, berfungsi untuk sintesi protein dan berhubungan dengan kerja ribosom dan retikulum endoplasma.
·        Mikrotubulus, melindungi dan mejaga bentuk sel.
·        Mikrofilamen, berperan dalam proses pergerakan sel.
·        Kloroplas, berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis pada tumbuhan.
·        Sentrosom (Sentriol), sebagai tempat pembelahan sel.
·        dan lain lain.

3. Inti Sel (Nukleus)
Inti sel adalah bagian yang umumnya berbentuk bulat atau lonjong dan sering terletak di tengah sel atau di tepi sel. Nukleus merupakan bagian terpenting dari kehidupan sel. Nukleus memiliki fungsi utama sebagai pusat pengendali segala aktivitas sel. Nukleus sel dilindungi oleh sebuah dinding yang menyerupai membran sel. Struktur pelindung ini disebut membran inti.

Terdapat beberapa bagian nukleus, yaitu :
a. Nukleolus (Anak Inti)
Nukleolus merupakan struktur berbentuk bulat yang disusun oleh filamen dan butiran-butiran komponen. Anak inti mengandung RNA, DNA dan bebrapa protein yang berfungsi dalam perakitan ribosom.
Secara umum fungsi dari Nukleus (Inti Sel) adalah sebagai berikut :
·        Sebagai pusat pengatur dan pengendali segala aktivitas sel.
·        Tempat penyimpanan informasi genetik organisme tersebut.
·        Memulai dan mengakhiri suatu tindakan yang dilakukan oleh sel.
·        Tempat terjadinya sebagian proses pembelahan sel.
·         
b. Nukleoplasma (Cairan Inti)
Nukleoplasma merupakan caira kental menyerupai jeli yang mengandung protein, ion, enzim dan komponen lainnya. Nukleoplasma memiliki struktur dan fungsi yang kompleks karena banyaknya kandungan komponen yang dimiliki.

c. Kromatin
Kromatin merupakan untaian benang-benang halus yang terdapat di dalam inti sel. Kromatin mengandung DNA, yaitu substansi yang menyimpan segala informasi genetik suatu makhluk hidup. Saat terjadinya pembelahan sel, kromatin akan memendek, menebal, dan melingkar membentuk kromosom.

Dfiferensiasi Sel

Dalam biologi perkembangandiferensiasi sel adalah proses ketika sel kurang khusus menjadi jenis sel yang lebih khusus. Diferensiasi terjadi beberapa kali selama perkembangan organisme multiselularketika organisme berubah dari zigot sederhana menjadi suatu sistem jaringan dan jenis sel yang rumit. Diferensiasi adalah proses yang lazim pada makhluk dewasa: sel punca dewasa terpisah dan menciptakan sel anak yang terdiferensiasi sepenuhnya selama perbaikan jaringan dan perputaran sel normal. Diferensiasi secara dramatis mengubah ukuran, bentuk, potensial membranaktivitas metabolis, dan ketanggapan sel terhadap sinyal. Perubahan-perubahan itu sebagian besar diakibatkan oleh modifikasi ekspresi gen yang sangat terkontrol. Dengan sejumlah pengecualian, diferensiasi sel hampir tidak pernah mengubah urutan DNA-nya sendiri. Karena itu, beberapa sel bisa memiliki ciri khas fisik yang sangat berbeda meski memiliki genom yang sama.
Sebuah sel yang mampu mendiferensiasikan dirinya ke semua jenis sel organisme dewasa disebut pluripoten. Sel-sel seperti itu disebut sel punca embrio pada hewan dan sel meristem pada tumbuhan yang lebih tinggi. Sebuah sel yang mampu mendiferensiasikan diri ke semua jenis sel, termasuk jaringan plasenta, disebut totipoten. Pada mamalia, hanya zigot dan blastomer akhir yang totipoten, sementara pada tumbuhan banyak sel diferensiasi yang menjadi totipoten melalui serangkaian teknik laboratorium sederhana. Dalam sitopatologi, tingkat diferensiasi sel dipakai untuk mengukur perkembangan kanker. "Grade" adalah penanda diferensiasi suatu sel di dalam tumor.

Mikrofilamen

Mikrofilamen atau filamen aktin adalah bagian dari kerangka sel (sitoskeleton) yang berupa batang padat berdiameter sekitar 7 nm dan tersusun atas proteinaktin, yaitu suatu protein globular. Mikrofilamen ada pada sel eukariot. Berlawanan dengan peran penahan-tekanan (gaya tekan) mikrotubula, peran struktural mikrofilamen dalam sitoskeleton ialah untuk menahan tegangan (gaya tarik). Dengan bergabung dengan protein lain, mikrofilamen sering membentuk jalinan tiga dimensi persis di dalam membran plasma, yang membantu mendukung bentuk sel. Jalinan ini membentuk korteks (lapisan sitoplasma luar) sel tersebut mempunyai kekentalan semipadat seperti gel, yang berlawanan dengan keadaan sitoplasma dalamnya yang lebih cair (sol). Dalam sel hewan yang terspesialisasi untuk mengangkut materi melintasi membran plasma, berkas mikrofilamen membentuk inti mikrovili, penonjolan halus yang meningkatkan luas permukaan sel. Mikrofilamen dikenal baik karena perannya dalam pergerakan sel khususnya sebagai bagian alat kontraksi sel otot. Ribuan filamen aktin disusun sejajar satu sama lain di sepanjang sel otot yang diselingi dengan filamen yang lebih tebal yang terbentuk dari protein yang disebut miosin. Kontraksi otot terjadi akibat mikrofilamen dan miosin yang saling melncur melewati yang lain, yang akan memperpendek selnya.

Aktivitas mikrofilamen menyebabkan pergerakan seperti aliran sitoplasma dan gerak ameboid (gerak sel tunggal protista, cendawan, dan hewan yang menggunakan protoplasmanya yang mengalir keluar dari sel unuk membentuk semacam kaki semu atau pseudopod, kemudian bagian sel yang tertinggal maju ke arah pseudopod hingga menghasilkan gerak sel di suatu permukaan). Mikrofilamen terlihat melalui mikroskop fluoresensi dengan bantuan antibodi antiaktin(diperoleh dari lawan aktin pada hewan) atau dengan analog fluoresen falotoksin (berasal dari cendawan Amanita phalloides), yang secara khas berikatan dengan molekul aktin (atau lir-aktin)).

Filamen Intermediat

Filamen intermediat merupakan bagian dari kerangka sel (sitoskeleton) yang memiliki diameter antara 8 hingga 12 nm, lebih besar daripada diameter mikrofilamen tetapi lebih kecil daripada diameter mikrotubula, yang fungsinya untuk menahan tarikan (seperti mikrotubula). Filamen intermediet terdiri dari berbagai jenis yang setiap jenisnya disusun dari subunit molekuler berbeda dari keluarga protein yang beragam yang disebut keratin. Mikrotubula dan mikrofilamen, sebaliknya mempunyai diameter dan komposisi yang sama di seluruh sel eukariot. Dibandingkan mikrofilamen dan mikrotubula yang sering dibongkar-pasang dalam berbagai macam bagian sel. Filamen intermediet termasuk peralatan sel yang lebih permanen. Perlakuan kimiawi yang memindahkan mikrofilamen dan mikrotubula dari sitoplasma meninggalkan jalinan filamen intermediet yang mempertahankan bentuk aslinya. Berbagai jenis filamen intermediet kemungkinan berfungsi sebagai kerangka keseluruhan sitoskeleton.


Ref :





Sunday, May 15, 2016

Teknik Logoterapi

Logoterapi adalah istilah dari Viktor E. Frankl untuk bentuk  psikoterapinya yang didasarkan upaya memfokuskan klien kepada sebuah pengenalan dan penerimaan dirinya sendiri dengan cara-cara bermakna sebagai bagian dari suatu totalitas, termasuk dunia nyata yang di dalamnya mereka harus berfungsi. Pendekatan Viktor E. Frankl menyatukan elemen-elemen psikologi dinamik, eksistensialisme dan behaviorisme.

Tujuan Konseling

Tujuan dari konseling dalam pendekatan logoterapi ini diantaranya ialah mengajarkan bahwa setiap kehidupan individu mempunyai maksud, tujuan, makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup kita tidak lagi kosong jika kita menemukan suatu sebab dan sesuatu yang dapat
mendedikasikan eksistensi kita. Namun kalaulah hidup diisi dengan penderitaaan pun, itu adalah kehidupan yang bermakna, karena keberanian menanggung tragedi yang tak tertanggungkan merupakan pencapaian atau prestasi dan kemenangan. Diharapkan agar klien bisa menemukan dan memenuhi makna serta tujuan hidupnya dengan jalan lebih menyadari sumber-sumber makna hidup, mengaktualisasi potensi diri, meningkatkan keakraban hubungan antarpribadi, berpikir dan bertindak positif, menunjukkan prestasi dan kualitas kerja optimal, mendalami nilai-nilai kehidupan, mengambil sikap tepat atas musibah yang dialami, serta memantabkan ibadah kepada tuhan.

Logoterapi membantu klien agar lebih sehat secara  emosional, dan salah satu cara untuk mencapainya adalah memperkenalkan filsafat hidup yang lebih sehat, yaitu mengajak untuk menemukan makna  hidupnya.Ada tiga asas utama logoterapi yang menjadi inti dari terapi ini, yaitu:
·    Hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup. Setiap manusia memiliki kebebasan – yang hampir tidak terbatas – untuk menentukan sendiri makna hidupnya. Dari sini kita dapat memilih makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif atupun makna yang negatif. Makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mangambil sikap terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar. 

Proses Konseling
Logoterapi dengan filsafat manusia, asas-asas, metode, dan pendekatannya memberi corak khusus pada kegiatan konseling sebagai salah satu bentuk aplikasinya. Karakteristik logoterapi bisa dilihat dari tujuan konseling logoterapi yaitu diharapkan agar pasien bisa menemukan dan memenuhi makna serta tujuan hidupnya dengan jalan lebih menyadari sumber-sumber makna hidup, mengaktualisasi potensi diri, meningkatkan keakraban hubungan antarpribadi, berpikir dan bertindak positif, menunjukkan prestasi dan kualitas kerja optimal, mendalami nilai-nilai kehidupan, mengambil sikap tepat atas musibah yang dialami, serta memantabkan ibadah kepada tuhan. Jadi dari gambaran diatas menunjukkan bahwa konseling logoterapi merupakan konseling individual untuk masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Jadi bukan untuk problema eksistensial dan patologis berat yang memerlukan bantuan psikoterapi. Selain itu karakteristik konseling logoterapi adalah jangka pendek, berorientasi masa depan, dan berorientasi pada makna hidup. Dalam konseling ini, khususnya dalam proses penemuan makna hidup, terapis bertindak sebagai rekan-yang-berperan-serta (the participating partner) yang sedikit demi sedikit menarik keterlibatannya bila klien telah mulai menyadari dan menemukan makna hidupnya. Untuk itu relasi konselor dengan klien harus mengembangkan ecounter, yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami, dan menerima sepenuhnya satu sama lain. Fungsi terapis dalam hal ini adalah membantu  membuka cakrawala pandangan klien terhadap berbagai nilai dan pengalaman hidup yang secara potensial memungkinkan ditemukannya makna hidup, yakni bekerja dan berkarya (creative values); menghayati cinta kasih, keindahan. Dan kebenaran (experiential values); sikap yang tepat menghadapi musibah yang tak terelakkan (attitudinal values); serta memiliki harapan akan terjadinya perubahan yang lebih baik dimasa mendatang.

Tahapan Konseling

Proses konseling pada umumnya mencakup tahap-tahap: perkenalan, pengungkapan, dan penjajagan masalah, pembahasan bersama, evaluasi dan penyimpulan, serta pengubahan sikap dan perilaku. Biasanya setelah masa konseling berakhir  masih dilanjutkan dengan pemantauan atas upaya
perubahan perilaku dan klien dapat melakukan konsultasi lanjutan apabila memerlukan. Dilain pihak tentu saja corak dan proses konseling dapat berbeda-beda sesuai teori dan metode yang dianut, serta permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai. Elisabeth Lukas misalnya mengajukan empat langkah logoterapi, sebagai berikut :
  • mengambil jarak atas symptom: terapis membantu menyadarkan klien bahwa simptom sama sekali tidak "mewakili" dirinya. Simptom tidak lain hanyalah kondisi yang "dimiliki" dan dapat dikendalikan.
  • modifikasi sikap: terapis–tanpa  melimpahkan pandangan dan sikap pribadinya- membantu klien untuk mendapatkan pandangan baru atas diri sendiri dan situasi hidupnya, kemudian menentukan sikap baru untuk mengembangkan rasa percaya diri dalam mencapai kehidupan yang lebih sehat.
  • pengurangan simptom: terapis membantu klien menerapkan teknik-teknik logoterapi untuk menghilangkan atau sekurang-kurangnya mengurangi dan mengendalikan sendiri keluhan dan simptomnya.
  • orientasi terhadap makna: terapis bersama kliennya membahas nilai dan  makna hidup yang secara potensial ada dalam kehidupan klien, kemudian memperdalam dan menjabarkannya menjadi tujuan-tujuan yang lebih kongkrit. Dan dalam kenyataanya, konseling logoterapi sangat luwes, dalam artian bisa direktif  dan bisa non direktif serta tidak kaku dalam mengikuti tahapan-tahapan konseling. Logoterapi juga telah ada beberapa yang memodifikasi dan juga dipadukan dengan pendekatan lain. Dengan logoterapi yang dipadukan dengan metode-metode dan pemikiran lain, konselor bisa mengaplikasikan dalam suasana yang berbeda-beda, baik yang bersifat sosial, kultural, dan rasial. Sehingga seperti menurut (Omar ali Shah: 2002) menjadi teknik yang riel, karena terapi yang riel bukanlah  menggunakan terapi (termasuk konseling) yang dikenal paling efektif, tetapi menggunakan  yang cocok dan saling melengkapi.
 Aplikasi Konseling Logoterapi

Seperti konseling pada umumnya- merupakan kegiatan menolong dimana seorang konselor memberikan bantuan psikologis kepada seorang klien yang membutuhkan bantuan untuk pengmbangan diri. Dengan demikian, proses dan tahap-tahap konseling logoterapi pada dasarnya sejalan dengan proses dan tahap-tahap konseling pada umumnya, sedangkan komponen-komponen logoterapi sebagai kualitas-kualitas insani yang dibahas selama konseling.
Tahap pertama, perkenalan dan pembinaan raport diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan membina raport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah ecounter. Inti sebuah ecounter adalah penghargaan pada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan pada tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi klien. Omar ali Shah: Antara konselor dan klien sering ada batas dan dinding yang, disamping diciptakan oleh klien, tapi terkadang juga konselor menciptakan batas dan dinding itu. Ecounter ini merupakan karakteristik logoterapi, yang berbeda dengan konseling psikologi barat pada umumnya, menurut Agha praktisi terapi sufi, cinta adalah faktor yang absen dalam pemikiran psikologi barat. Masih menurut Agha padahal dasar setiap terapi adalah 50% cinta dan 50% pemahaman terhadap pasien. Jika memadukan kedua unsur itu maka terapis secara otomatis mengembangkan sebuah sikap dan teknik yang baik terhadap pasien dan problem-problemnya. Pemikiran Agha tentang terapi tentu juga bisa diterapkan untuk konseling logoterapi ini.
Tahap kedua, pengungkapan dan penjajagan masalah, konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi klien. Berbeda denga konseling lain yang cenderung membiarkan klien "sepuasnya"  mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi klien sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
Tahap ketiga, pada tahap pembahasan pertama,  konselor dank klien bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas  masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
Tahap keempat, tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi   atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, ketahap lima.
Tahap kelima, pada tahap perubahan sikap dan perilaku klien ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan simptom.

Teknik Konseling
Logoterapi tidak hanya mengemukakan asas-asas dan filsafat manusia yang bercorak humanistik eksistensial, tetapi juga mengembangkan metode dan teknik-teknik terapi untuk mengatasi gangguan-gangguan neurosis somatogenik, neurosis psikogenik, dan neurosis noogenik. Metode-metode ini merupakan jabaran dari pandangan logoterapi yang mengakui kepribadian manusia sebagai totalitasraga-jiwa-rohani dan logoterapi memfungsikan potensi berbagai kualitas insani untuk mengembangkan metode dan teknik-teknik terapi.
Frankl mengembangkan logoterapi bukan sekedar sekumpulan teori, tetapi juga terdapat teknik-teknik terapi yang spesifik, yang menjadikan logoterapi suatu pendekatan psikoterapi yang memiliki fungsi pemecahan praktis. Teknik-teknik terapi yang dimaksud adalah intensif pradoksikal, derefleksi, bimbingan rohani, dan eksistensial analisis.
Menurut Frankl, penting untuk untuk dicermati apakah kasus-kasus pasien berkaitan dengan wilayah empirik atau wilayah transenden. Sebab kalau kasus-kasus kongkret seperti ketakutan pada ruangterbuka dan fobia-fobia itu tidak bisa diselesaikan dengan pemahaman filosofis. Namun sebelum memahami teknik- teknik  paradoxical intention dan dereflection, perlu dibahas lebih dulu suatu fenomena klinis yang disebut anticipatory anxiety, yakni rasa cemas akan munculnya suatu gejala patologis tertentu yang justru benar-benar memunculkan apa yang dicemaskannya itu dan tercetusnya gejala tersebutakan meningkatkan intensitas kecemasan. Dengan demikian penderita sebenarnya mengalami perasaan “takut menjadi takut” sehingga seakan-akan terjerat dalam lingkaran kecemasan yang tak berakhir. Terhadap  anticipatory anxiety biasanya para penderita mengembangkan tiga pola reaksi khusus yang dalam logoterapi dikenal sebagai:  fligh from fear, fight against obsession, dan fight for pleasure. Dalam pola flight from fear penderita menghindari semua objek yang ditakuti dan dicemaskannya. Reaksi ini terdapat pada semua reaksi cemas, dan secara khas terdapat pada fobia. Sementara itu, pada fight again obsession penderita mencurahkan segala daya upaya utnuk mengendalikan dan menahan agar tidak sampai tercetus suatu dorongan aneh yang kuat dalam dirinya. Namun kenyataanya, makin keras upaya menahannya, makin kuat pula dorongan untuk
muncul dan makin tegang pula perasaan penderita. Pola reaksi ini jelas merupakan pola reaksi khas gangguan obsesi dan kompulsi.
Pada  fight for plesure terdapat hasrat yang berlebihan untuk memperoleh kepuasan. Hasrat ini sering disertai kecenderungan kuat untuk menanti-nantikan dengan penuh harap saat kepuasan itu terjadi pada dirinya (hyper reflection) dan terlalu menghasrati kenikmatan seccara berlebihan yang keduanya saling menunjang dalam memperkuat anticipatory anxiety. Pola reaksi ini sering terdapat pada gangguan seksual (misalnya frigiditas dan impotensi) dan non seksual (misalnya insomnia). Seperti pola reaksi pertama,  kedua pola reaksi ini pun mengembangkan mekanisme lingkaran tak berakhir yang makin memperkuat kecemasan. Untuk mengatasi lingkaran proses yang tak berakhir ini logoterapi “mengguntingnya” dengan teknik-teknik paradoxical intention dan dereflection.

Sumber :

Perbedaan Teori Humanistik Eksistensial dengan Person - Centered Theraphy (Rogers)

Person Centered Therapy (Rogers)

Psikoterapi ini menekankan bahwa prinsip terapi ini tidak hanya diterapkan dalam proses terapi, tetapi prinsip-prinsip terapi ini dapat diterapkan di berbagai setting seperti dalam masyarakat. Dengan meningkatkan keterlibatan hubungan personal dengan klien, terapis lebih aktif & terbuka, lebih memperhatikan pengaruh lingkungan.

Konsep Dasar

1. Menekankan pada dorongan dan kemampuan yang terdapat dalam diri individu yang berkembang, untuk hidup sehat dan menyesuaikan diri.
2. Menekankan pada unsur atau aspek emosional dan tidak pada aspek intelektual.
3. Menekankan pada situasi yang langsung dihadapi individu, dan tidak pada masa lampau.
4. Menekankan pada hubungan terapeutik sebagai pengalaman dalam perkembangan individu yang bersangkutan.
Tujuan Person Centered Therapy

Diharapkan dapat membantu individu dalam menemukan konsep dirinya sesuai dengan medan fenomenalnya, individu tidak lagi menolak atau mendistorsi pengalaman – pengalaman sebagaimana adannya. Terbuka terhadap pengalamannya, adanya kepercayaan terhadap organismenya sendiri, kehidupan eksistensial yaitu sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan, perasaan bebas dan kreatif.

Fungsi & Peran Terapis


1. Terapis dan klien berada dalam hubungan psikologis.
2. Terapis adalah benar – benar dirinnya sejati dalam berhubungan dengan klien. 
3. Terapis merasa atau menunjukan unconditional positive regard untuk klien. 
4. Terapis menunjukkan rasa empati serta memahami tentang kerangka acuan klien dan memberitahukan pemahamannya kepada klien. 
5. Klien menyadari usaha terapis yang menunjukkan sikap empati berkomunikasi dan menunjukkan unconditioning positive regard kepada klien.

Proses Terapeutik

Terapis perlu mengusahakan agar klien bisa memahami hal – hal yang ada di balik topeng yang dikenakanya. Klien mengembangkan kepura – puraan dan bertopeng sebagai pertahanan diri terhadap ancaman. Sandiwara yang dimainkan oleh klien menghambatnya untuk tampil utuh dihadapan oranglain.

Pengalaman Klien dalam Terapi

1. Klien datang ke konselor dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami kecemasan. Atau kondisi penyesuaian diri yang tidak baik.
2. Saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat memperoleh bantuan, jawaban atas permasalahn yang sedang dialami dan menemukan jalan atas permasalahanya. Perasaan yang dialami klien adalah ketidakmampuan mengatasi kesulitan hidupnya.
3. Pada awal proses konseling , klien menunjukkan perilaku, sikap, dan perasaanya yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada konselor secara permukaan dan belum menyatakan pribadi yang dalam. Pada awal – awal ini klien akan cenderung mengeksternalisasikan perasaan dan masalahnya dan mungkin bersifat defensif.
4. Konselor menciptakan kondisi yang ondusif dengan sikap empati dan penghargaan, konselor terus membantu klien untuk mengeksplorasi dirinya secara lebih terbuka.

Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Person-Centered Therapy


Kelebihan pendekatan Person-Centered: 
1.    Pemusatan pada klien dan bukan pada terapis.
2.    Identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.
3.    Lebih menekankan pada sikap terapi dari pada teknik.
4.    Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.
5.    Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi.
6.    Klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya.
7.    Klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi

Kekurangan Pendekatan Person Centered:

1.    Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana.
2.    Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan.
3.    Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai individu.
4.    Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya.
5.    Sulit bagi terapis untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.
6.    Terapi  menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif. Mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup.
7.    Tidak bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah.
8.    Minim teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya.

Karateristik
  • Penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard). Secara jujur dan tulus, terapis harus menyukai kliennya. Terapis tidak harus menyetujui setiap perilaku kliennya, namun ia harus mampu membedakan antara dosa dan pendosa (sins and sinner), perilaku salah dan orang salah.
  • Empati secara akurat (accurate empathy). Ini berarti kemampuan untuk mempersepsi secara akurat dunia internal klien dengan menggunakan cara non-evaluatif. Untuk menunjukkan empati secara akurat, terapis berusaha mengetahui bahwa ia bersungguh-sungguh mengerti apa yang dimaksud klien. Semakin terapis mampu merasakan secara akurat perasaan-perasaan dan makna-makna pribadi yang sedang dialami klien, kemudian mengkomunikasikan pemahaman yang penuh penerimaan ini, maka akan semakin besar kemungkinannya terjadi perubahan pada diri klien dalam proses terapi.
  • Kongruensi dalam hubungan interpersonal (congruence in interpersonal relationship). Kesediaan terapis untuk menjadi dirinya sendiri secara alamiah dan terbuka, dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi ini ditandai dengan hubungan yang tulus dan tidak mengada-ada (realistis).
  • Belajar dari klien (learn from the client). Terapis yang baik harus mampu berdiam diri dan menyimak (active listening). Terapi adalah komunikasi dua arah, sehingga terapis dapat belajar dan memperoleh manfaat tertentu dari hubungan dengan kliennya.


Terapi Humanistik Eksistensial

Konsep Dasar

     Humanistik Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu dalam terapi humanistik seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri.

Hasil pemikiran dari psikologo humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan konseling dan terapi, salah satunya adalah dari Carl Rogers dengan Client-Centered Therapy, yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya.
Konsep dasar terapi eksistensial adalah mengubah konsep berpikir, dari kondisi merasa lemah dan tidak berdaya menjadi lebih bertanggung jawab dan mampu mengontrol kehidupannya sendiri, menemukan jati dirinya, sehingga menemukan kesadaran diri sendiri yang dapat mengeliminasi perasaan tidak berarti (not being) sedangkan perasaan tidak berarti ini biasanya muncul dalam kondisimerasa tidak berdaya , rasa bersalah ,putus asa dsb.
Konsep teori eksistensialis bukan merupakan sistem terapi yang komprehensif , eksistensialis memandang proses terapi dari susdut pandang suatu paradigma untuk memahami dan mengerti kondisi individu yang sedang bermasalah. Oleh karena itu, terapi eksistensialis memandang klien sebagai manusia bukan sekadar aspek pola perilaku beserta mekanismenya.
· 
Konsep masing-masing prinsip psikologi humanistik adalah sebagai berikut:
1.    Hasrat untuk belajar
2.    Belajar yang berarti
3.    Belajar tanpa ancaman
4.    Belajar atas inisiatif sendiri
5.    Belajar dan perubahan

Konsep Utama: 
  • Kesadaran diri; individu memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri
  • Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan. Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia.
  • Penciptaan makna; individu berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan.


    Proses terapi

    Tahapan terapi eksistensialis dilakukan dengan memperhatikan beberapa langkah :
  •     Kesadaran akan tanggung jawab pribadi. Terapi berupaya untuk mengembangkan kemampuan klien untuk menggali perasaan dan perilakunya sendiri. Jika klien mengatakan “ saya tidak menyadari “ terapis mengomentari “ lalu kesadaran itu milik siapa ? “ dan memberikan pandangan bahwasanya tanggung jawab merupakan bagian dari kebebasan . Berdasarkan tanggung jawab yang dimiliki individu memiliki kebebasan melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkannya.
  •     Mengenali keinginan klien. Klien perlu belajar bahwa keinginan memberikan makna dalam kehidupan. Keinginan merupakan bagian kehidupan yang harus diwujudkan, hubungan yang mesra , cinta kasih dapat terwujud karena adanya keinginan.
  •     Pengambilan keputusan. Terapis perlu membantu klien untuk belajar membuat keputusan. Strategi yang penting adalah membuat membuat individu belajar mengenai kesiapan individu dalam menerima segala kemungkinan.

Tujuan 

Terapi humanistik adalah membawa individu untuk mengenali dorongan alamiah (innate tendency) untuk meningkatkan dirinya agar mengarah pada pertumbuhan (growth), kematangan (maturity) dan pengayaan hidup(life enrichment) dan memiliki karakteristik sbb :
  • Sikap terapis lebih penting daripada latihan teknis atau keterampilan.  Dalam teori Roger, sikap terapis tersebut hendaknya ditandai dengan tiga ciri pokok: (1) kepekaan memahami pengalaman-pengalaman subjektif dan perasaan-perasaan klien secara akurat, (2) penghargaan positif tanpa syarat atau unconditional positive regards, dan (3) ketulusan (genuineness).
  • Terapis memfasilitasi tumbuhnya suasana yang memungkinkan individu untuk mengenali dorongan terdalam di dalam dirinya yang akan mengarahkan dirinya pada sasaran yang positif dan konstruktif. Kalau manusia dapat diajak untuk melihat sisi dirinya yang terdalam, ia akan mempunyai kesadaran sendiri untuk memperbaiki beberapa perilaku-perilaku yang maladaptif. Perilaku-perilaku maladaptif ini pada dasarnya hanya merupakan topeng atau penampilan semu belaka.
  • Terapis menekankan pemahaman manusia seutuhnya (the whole person). Manusia terndiri dari beberapa lapisan. Ada dua prinsip yang dipraktikkan, yaitu: (1) Adanya tanggung jawab sepenuhnya untuk diri pribadi. Terapis hanya menjadi fasilitator dan “cermin” bagi klien. (2) Pencapaian integrasi diri, yang erat kaitannya dengan konep the whole peron. Dalam hal ini, semua kekurangan dapat diperbaiki, semua ketertinggalan dapat dikejar, semua lubang kelemahan dapat ditutupi, dsb. Ini merupakan pandangan yang optimistik dari terapi humanistik yang hendak ditularkan kepada klien.
  • Terapis menekankan terjadinya perubahan dan perkembangan. Manusia bukan makhluk yang statis, yang menjadi budak kebutuhan-kebutuhan biologis atau terpenjara oleh pengalaman masa lalunya.
  • Menumbuhkan motivasi yang kuat pada diri individu dalam “proses menjadi” (being process). Dalam pendekatan psikologi yang lain, manusia baru berperilaku kalau ia merasakan suatu kekurangan (defisiensi) pada dirinya.


Tujuan Terapeutik

Membantu klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaannya dan potensi yang dimiliki serta sadar bahwa dia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.

Peran Terapis

Memahamkan keberadaan klien bahwa dia ada dalam dunia, penekanan terapis berfokus pada keadaan saai ini.


Sumber :